LAMONGAN — Suasana ceria dan penuh antusias menyelimuti perjalanan edukasi siswa-siswi kelas 1 SD Muhammadiyah 12 Surabaya. Pada Selasa, 13 Oktober 2026, sebanyak puluhan murid mengikuti kegiatan pembelajaran luar kelas (outing class) ke destinasi wisata edukasi populer di pesisir utara Jawa Timur, yaitu Maharani Zoo dan Goa, Paciran, Lamongan.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan peserta didik sejak dini, khususnya dalam mengenalkan keanekaragaman fauna di Indonesia serta menyaksikan langsung fenomena alam unik di dalam perut bumi. Melalui observasi langsung di area kebun binatang, anak-anak diajak mengamati tingkah laku aneka satwa sekaligus menumbuhkan rasa sayang dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Tak kalah memikat, petualangan berlanjut saat rombongan memasuki Goa Maharani. Di dalam gua yang memesona ini, para siswa tampak takjub memandangi formasi batuan alami berupa stalaktit yang menggantung di langit-langit gua dan stalakmit yang menjulang dari dasar gua. Para guru membimbing anak-anak memahami secara sederhana bagaimana proses tetesan air selama ribuan tahun mampu membentuk karya alam yang begitu menakjubkan.
Perjalanan edukatif ini didampingi langsung oleh Kepala SD Muhammadiyah 12 Surabaya, Ustadzah Lin Hidayati, S.Pd. Beliau menyampaikan bahwa pembelajaran di luar kelas menjadi sarana yang sangat efektif untuk melatih kemandirian, keberanian, dan rasa ingin tahu anak-anak.
“Belajar tidak melulu di dalam ruang kelas. Melalui kegiatan ini, anak-anak bisa melihat langsung bukti kebesaran ciptaan Allah SWT, mulai dari keragaman satwa hingga formasi batuan stalaktit dan stalakmit di dalam gua. Harapannya, pengalaman berharga ini memperkaya wawasan sekaligus membangun karakter peduli alam pada diri anak-anak sejak kelas satu,” tutur Ustadzah Lin Hidayati di sela-sela kegiatan.
Perwakilan tim guru kelas 1, Ustadzah Ulum, turut mengungkapkan kebahagiaannya melihat semangat dan kepolosan para siswa selama kegiatan berlangsung. Beliau mengapresiasi keaktifan anak-anak yang tak henti-hentinya bertanya sepanjang perjalanan.
“Melihat binar mata dan rasa ingin tahu anak-anak adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami para guru. Selama di kebun binatang hingga masuk ke dalam gua, mereka sangat antusias bertanya tentang nama-nama satwa dan bagaimana batu stalaktit serta stalakmit bisa terbentuk. Pembelajaran kontekstual seperti ini membuat materi pelajaran jauh lebih mudah dipahami dan membekas kuat di memori mereka,” ungkap Ustadzah Ulum penuh semangat.
Senada dengan hal itu, Ustadzah Taskiya menekankan pentingnya pembentukan karakter mandiri dan empati siswa selama berada di luar lingkungan sekolah.
“Bagi siswa kelas satu, kegiatan seperti ini adalah ajang belajar mandiri yang sesungguhnya. Mereka belajar disiplin mengikuti arahan rombongan, tertib saat mengantre, saling menjaga teman satu kelompok, hingga peduli untuk tidak mengganggu kenyamanan hewan-hewan yang mereka temui,” ujar Ustadzah Taskiya.
Sementara itu, Ustadzah Bunga menambahkan kesan mendalam mengenai kehangatan dan kedekatan emosional yang terjalin selama perjalanan.
“Alhamdulillah, melihat tawa lepas dan kekompakan anak-anak membuat rasa lelah kami terbayar lunas. Hubungan emosional antara guru dan siswa pun terasa semakin erat dan hangat. Semoga keceriaan serta ilmu baru yang didapat hari ini bisa menjadi penyemangat belajar mereka saat kembali ke sekolah,” sambung Ustadzah Bunga dengan senyum ramah.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan makan siang sebelum rombongan kembali menuju Surabaya. Raut wajah gembira terpancar jelas dari seluruh siswa yang membawa pulang banyak cerita baru, pengalaman seru, dan ilmu yang bermanfaat.

